Selasa, 05 Mei 2015

Bocah Besar yang Kecil


Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang anak berumur limabelas tahun bernama Tarania. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Sementara Ayahnya pergi entah kemana. Alasannya tampak jelas. Ia tampaknya berbeda dari teman-teman sebayanya. Tubuhnya kelewat tinggi, bahkan lebih tinggi dari tiang listrik. Keadaan ini digunakan oleh anak-anak di kampungnya untuk mengejeknya. Tak jarang ia dilempari batu karena dianggap raksasa aneh. Bahkan para orang tua melarang anaknya untuk  bermain dengan Tarania. Akhirnya Tarania tidak punya teman dan terus berdiam diri di dalam rumahnya yang terbuat dari kumpulan batu di huta
                Tahun ini panas melanda seluruh kawasan. Hujan tidak pernah turun dalam beberapa bulan padahal seharusnya ini  adalah musim penghujan. Masyarakat tidak henti-hentinya berdoa untuk kesuburan tanah mereka. Padi-padi berubah warna menjadi coklat lalu kering dan mati. Tanah-tanah persawahan retak, seakan telah terjadi gempa besar . Sumur-sumur kering. Bahkan sungai—yang merupakan sumber air utama di kampung itu—mulai mati.
                Di hutan, Tarania sedang  berada di guanya dan tengah meminum air. Ia juga merasakan hal yang sama. Panas. Setiap beberapa menit ia tak henti-hentinya meminum air yang berasal dari tanah di guanya. Kemudian, dalam keheningan hutan, ia mendengar suara gemeresak daun kering yang diinjak. Telinganya berdiri waspada. Tak pernah ada hewan yang bisa bicara. Dengan sedikit bersembunyi, Tarania mengintip keluar melalui sebuah lubang kecil. Dan disana ia melihat ada dua orang laki-laki tengah bercakap-cakap.
                Pemuda pertama berkata, “Tak pernah seperti ini sebelumnya. Apa yang salah dengan kita?”
                Pemuda lainnya menyahut, “Kita sudah menyumbangkan hewan ternak kita pada Dewa. Apa lagi? Sekarang hewan-hewan itu mati dan kita kehabisan air!”
                “Sungai pun kering. Hutan ini semenyedihkan sungai itu. Aku tidak yakin kita bisa dapat hewan di hutan yang daunnya sudah meranggas.” Mereka berlalu membawa caci maki terhadap alam.
                Tarania terduduk di tanahnya yang lembab, mencoba mencerna masalah teman-teman kampungnya. Kita kehabisan air terngiang-ngiang dalam telinganya. Ia menatap tanah lembab itu. Dengan sekali menekan telapak kaki dengan kuat, mata air bermunculan dan air menghambur keluar seolah air tersebut kepanasan terkurung di bawah tanah. Hewan-hewan memang langka, tetapi air di guanya tercukupi. Tarania pun memutuskan untuk membantu teman-temannya secara diam-diam karena ia masih takut untuk memperlihatkan dirinya. Malam ini juga, pikirnya, malam ini aku akan mengisi kembali sungai itu.
                Keesokan harinya, pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam berkokok, teriakan seorang petani memecah kesunyian dan memaksa orang-orang untuk keluar dari rumah mereka. Di luar berangin. Gemericik air terdengar dari kejauhan. Serta merta mata mereka membelalak mendengar suara yang sangat dirindukan itu. Bersama-sama, mereka berlomba menuju asal suara dan disana, di sebelah petani, air mengalir dengan jernihnya, menciptakan suara-suara khas yang  membuat mereka ingin meminumnya sekarang juga. Seraya mengucapkan syukur, mereka minum, mencuci wajah, mengambil wadah dari rumah lalu menampungnya. Tarania melihat semua itu dengan senyuman. Ia senang bisa membantu teman-temannya meskipun mereka tidak tahu.
                Semua orang akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Irigasi di sawah mulai lancar kembali. Hewan-hewan ternak yang tersisa kembali sehat dan berkembang biak dengan cepat. Kampung itu pun kembali subur.
                Seperti kebiasaan sebelumnya, dua orang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah-tengah hutan, mereka bertemu dengan kawanan beruang yang sedang berkelahi. Mereka berserobok pandang dengan beruang-beruang itu dan tanpa aba-aba, mereka berlari ketakutan. Dengan panik mereka mencari tempat perlindungan dan menemukan sebuah gua yang sangat besar, mereka akhirnya bersembunyi di balik lekukan batu-batu besar di dalam gua tersebut. Mereka terengah-engah, tak menyadari sosok besar yang mengintip sampai salah satu dari mereka berteriak ketakutan seraya menggengam kapak. Mengayun-ayunkan kapak itu hendak melawan. Sosok besar itupun menampakkan dirinya ketika beruang-beruang itu mulai memasuki gua. Ia menghalau mereka untuk meninggalkan rumahnya. Beruang-beruang tersebut akhirnya pergi setelah melihat Tarania. Keadaan seketika hening. Dua orang pemuda tadi mulai memberanikan diri.
                Pemuda pertama memiringkan kepala. Ia berkata, “Kau bukannya raksasa aneh yang menghilang?”
                Tarania duduk di sebelah mereka. Mereka bergerak menjauh untuk membuat jarak. “Nama saya Tarania. Apa kalian lupa?”
                “Hm, tidak juga,” Pemuda kedua menyahut. “Kau yang meresahkan warga kampung, kan? Kenapa kau masih tinggal di lingkungan kami?”
                Tarania berpikir sejenak. “Saya rasa saya tidak pernah membuat warga resah.”
                “Itu menurutmu. Dan kalau tidak keberatan, kami mau pergi,” tukas pemuda kedua. Lalu ia menambahkan “terima kasih” yang kelihatannya tidak begitu tulus. Mereka lalu berjalan ke mulut gua dan tiba-tiba saja sesuatu yang basah mengenai sepatu kulit mereka. Salah satu dari mereka memekik, tapi yang lainnya langsung menenangkan temannya yang terlihat sama terkejutnya dengan dia. Mereka saling pandang, kemudian menunduk lagi untuk memastikan bahwa air itu memang  ada. Kemudian mereka berlari keluar menuju kampung.
                Tarania terduduk lesu. Ia sudah sangat merindukan seorang teman untuk diajak bermain. Dia pikir dua orang pemuda tadi bisa duduk dengannya dan mengobrol. Tapi sangat jelas bahwa ia membuat mereka ketakutan. Tarania merasa frustasi. Dan satu-satunya obat penangkal untuk itu adalah tidur.
                Entah mimpi entah apa, ia terbangun dengan kepala berat. Suara-suara itu berisik sekali, pikirnya. Ia menyipitkan mata melihat cahaya yang berkelap-kelip di depan gua. Suara orang-orang yang berteriak menyuruhnya keluar. Tarania merasakan alisnya berkerut. Demi Tuhan, mengapa mereka membawa obor? Tarania kemudian mengerti. Mereka ingin memusnahkannya karena tahu ia masih hidup. Dua orang pemuda tadi yang membawa berita. Tarania keluar gua dengan lesu. Ia mulai pasrah.
                “Ternyata kau masih hidup, Raksasa!” Hardik seorang wanita tua. Ia menggoyang-goyangkan tongkatnya menunjuk Tarania. Tarania menunduk, tak tahu harus berkata apa.
                Salah satu pemuda mendekatinya. Sepertinya ia adalah cucu nenek tersebut. “Sudahlah nenek. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memakai drama itu?”
                Nenek itu mengerjap sedikit. Merasa malu. “Tapi, tadi....bukannya...”
                Pemuda tersebut menggeleng lambat. “Tadi kami sudah membatalkannya karena kami tahu itu hanya membuang waktu saja. Mungkin nenek lupa.”
                Tarania melihat semuanya dengan mulut menganga. Ia tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba membicarakan drama. Ia masih diam, mengamati wajah-wajah yang tertimpa cahaya api. Sama sekali tak ada kemarahan di wajah mereka. Ada yang memasang wajah sendu, tapi kebanyakan tersenyum ceria. Seketika Tarania terkejut melihat sesuatu menyentuh kakinya. Nenek tadi.
                “Terimakasih atas segala yang kauberikan pada kami,” ia berkata. Lalu orang-orang di belakangnya membungkuk sedikit untuk memberi hormat.
                “Aku...saya tidak mengerti apa yang kalian bicarakan,” jawab Tarania. Lalu seseorang menjelaskan semuanya tapi mata Tarania tertuju pada dua pemuda yang tadi dikejar beruang. Ia melihat mata mereka berbinar dihiasi senyum yang lebar. Kemudian ia menoleh ke arah guanya untuk melihat mata air itu. Jejak kakinya terlihat jelas seolah sudah disiapkan untuk menampung air. Ia mulai mengerti.
                “Awalnya kami kira kaki sebesar itu adalah kaki Dewa kami yang turun tengah malam untuk melihat kami kemudian menyediakan air sungai itu lagi. Tapi ternyata...” Seseorang menggantungkan kalimatnya lalu menggeleng tidak percaya. Ia tersenyum lalu menambahkan, “Ikutlah bersama kami ke kampung. Kami tak tahu bagaimana berterimakasih dengan layak.”
                Tarania tidak percaya. Ia diminta kembali. Seorang wanita paruh baya mendekatinya lalu berkata, “Kau tak tahu betapa besar bantuanmu.” Lalu wanita lainnya menggiring Tarania menuju kampung sambil berceloteh tak henti-henti. “Kau mau apa, sayang? Aku bisa membuatkan roti lapis sebesar rumah untukmu.”
                “...ayam goreng? Aku yakin kau belum makan sejak...”
                “...susu sapi! Ya. Kau akan memperoleh...”
                “...banyak hewan-hewan yang mati. Yang tersisa akan kami berikan pada...”
                Tarania tidak mengucapkan apa-apa selain terimakasih. Ya terimakasih. Ia tidak habis pikir kebaikan yang selama ini ia sembunyikan sudah tercium baunya dan mereka semua sangat menghargai jasanya.
                Di perjalanan menuju kampung, Tarania tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada Tuhan. Ia berdiri di tengah-tengah manusia yang bertinggi seperenam dari kakinya, dan ia tidak merasa besar. Ia merasa ukuran tubuhnya sama saja dengan mereka. Fisiknya memang sangat besar namun, jauh di lubuk hati, mereka sama-sama manusia.
                Semakin mendekati kampung, orang-orang semakin ribut meneriakkan maaf mereka. Tarania menerima semuanya dan menegaskan bahwa mereka tidak punya salah. Mendengar itu mereka berkumpul dan memeluk kaki Tarania. Tak ada yang bisa diucapkan. Tak ada yang bisa dilakukan. Tarania menangis untuk pertama kalinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar