Suatu
malam yang dingin dan mendung pada akhir bulan Desember.
Seorang wanita tua berjalan perlahan
ditengah dinginnya malam tahun baru. Ia membawa sebuah keranjang rotan yang
dirajut dengan rapi. Bagian atas keranjang tersebut tertutup sebuah kain kumal.
Ia melangkah masuk ke sebuah halaman rumah seseorang yang di dalamnya
sepertinya sedang mengadakan sebuah pesta. Anehnya, tak ada yang menyadari
kehadirannya. Semua orang berkumpul di satu tempat, tengah menyalakan kembang
api dan meluncurkan mercon. Wanita tua itu melangkah ke sebuah jendela kamar
lalu meletakkan keranjang rotan disana. Ia kemudian membungkuk ke arah
keranjang dan membuka sedikit tutupnya. Kucing kecil yang berada di dalam sana
mendongak ke arahnya.
Wanita itu berbisik, “Aku akan
kembali secepatnya.”
Kucing berbelang tiga itu mengangguk
perlahan, lalu wanita tua tersebut menghilang secepat kilat.
Pukul 02.00 dini hari, semua orang
bersiap-siap naik ke tempat tidur. Citra sudah akan mematikan lampu kamarnya
ketika mendengar suara di sekitar jendela. Ia sudah begitu mengantuk
sampai-sampai tidak bisa memusatkan mata. Ia menyibakkan tirai dan melihat
seekor kucing kecil sibuk menggaruk-garuk kaca jendela. Kontan matanya
membelalak. Ia cepat-cepat membuka jendela dan mengangkat keranjang kucing itu.
Ia meletakkan keranjang tersebut di lantai.
“Kamu datang darimana, sobat?” Tanya
Citra, tak mampu menyembunyikan kegirangannya. Ia sudah begitu lama menginginkan
hewan peliharaan, khususnya kucing. Selama hidupnya ia selalu berusaha membujuk
Ibunya untuk membolehkan seekor kucing berkeliaran di kamarnya atau di rumah
ini atau dimana pun. Tapi Ibunya, seperti halnya orang yang alergi terhadap
bulu-bulu dan debu, dengan tegas menolak. Dan Citra memang sudah sepantasnya
untuk menuruti.
Tapi kali ini Citra mengangkat
kucing itu tinggi-tinggi lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kucing
ini bersih, pikir Citra, jadi pasti ada pemiliknya sebelum akhirnya dibuang dan
ajaib sekali bisa sampai di rumah Citra lengkap dengan keranjangnya. Ia memeluk
kucing itu sekali lagi.
Citra akhirnya bergumam, “Gak peduli
Mama bilang apa. Sekarang aku punya kamu...” Citra terdiam sejenak, lalu ia
melanjutkan, “Willis.” Dan begitulah Citra menimang-nimang Willis layaknya Ibu
dan anak. Rasa kantuk Citra hilang. Ia begitu bersyukur sekaligus heran: Willis
tidak bersuara.
Tidak
ada yang bangun sebelum pukul 12 siang, kecuali Citra. Ia terbangun pada pukul
08.00, begitu bersemangat untuk melihat Willis lagi. Tapi ketika ia membungkuk
ke arah keranjang, Willis tidak ada. Ia memanggil-manggil nama Willis, mencari
di bawah tempat tidur. Siluetnya pun tidak terlihat. Citra kembali menegakkan
tubuhnya dan ketika itulah ia melihat. Ia melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.
Pikiran Citra langsung berkelana dan tiba pada Ibunya. “Ibu!” Serunya sambil
berbisik. Ia lalu cepat-cepat keluar kamar.
Suasana rumah sangat sepi. Semua
pintu kamar tertutup rapat. Di kasur tipis depan tv, kakaknya, Angga, sedang
tidur dengan memeluk bantal. Citra berjingkat ke kamar Ibunya. Tiba-tiba saja
Citra jadi tidak yakin bahwa Ibunya yang masuk ke kamarnya. Bagaimana pun kunci
kamarnya hanya satu.Tapi ia tetap memutuskan untuk hanya sekedar bertanya. Jadi
setengah berlari ia menuju kamar Ibunya. Tapi kemudian ia memperlambat
langkahnya karena ada suara dari dapur. Karena mengira itu Willis, Citra lantas
berjalan perlahan menuju dapur dan benar saja! Willis tengah menjilat-jilat
piring bekas ikan bakar tadi malam. Melihat ada sesuatu yang datang, Willis
terkejut setengah mati dan tanpa sadar kakinya menyenggol piring kaca tersebut.
Tak ada yang bisa menghalangi. Piring itu hancur berantakan dan mengacaukan
keheningan di rumah Citra. Tubuh Angga tersentak sedikit. Citra menahan nafas
sampai kakaknya tidak bergerak lagi.
“Ssst, jangan ribut, Willis. Kalau
ada orang yang tau kamu disini, mereka bakal buang kamu!” Desis Citra seraya
mengangkat Willis dari undukan beton dan meletakkannya di sisi yang lain.
Dengan sangat perlahan, Citra memungut pecahan piring lalu cepat-cepat
membuangnya di tempat sampah sebelah kompor gas. Ia menyapu pecahan yang lebih
kecil dan membuangnya di tempat yang sama. Setelah selesai, ia mengendong
Willis ke kamarnya.
Citra menutup pintu di belakangnya.
“Kamu lapar, ya?” Tanyanya pada Willis. Willis hanya mendongak menatap Citra.
Citra kembali membuka pintu dan menggoyang-goyangkan jarinya pada Willis untuk
jangan coba-coba keluar kamar lagi, walaupun ia tahu bahwa Willis tidak
mengerti sedikit pun ucapannya.
Untuk
pertama kalinya dalam setahun, keluarga Citra menyantap sarapan pada pukul satu
siang. Citra makan lambat-lambat padahal ia lapar sekali. Ia sengaja membiarkan
semua orang selesai sebelum dia supaya ia bisa mengambil sedikit makanan untuk
makan siang Willis. Yang membuat Citra cemas adalah Ibu menungguinya, tidak
seperti biasa. Citra makan sambil menunduk, berharap sekali sesuatu terjadi
sehingga Ibunya pergi.
“Selesaikan cepat makanmu, Ra!”
Perintah Ibu dengan nada biasa-biasa saja sudah membuat jantung Citra melompat.
“Ma, mama istirahat aja. Biar aku
yang beresin semua,” ujar Citra sesantai mungkin.
Ibunya tersenyum kecil seraya
menumpuk piring-piring kotor. “Biar Mama aja. Kamu mendingan belajar”
Dengan terpaksa, Citra menghabiskan
makanannya dan ketika Ibunya pergi ke dapur, ia mengambil sedikit nasi panas
dan ikan goreng setengah utuh kemudian menaruhnya di lipatan baju. Ia bergegas
meninggalkan meja makan ketika Ibunya kembali. Citra duduk lagi, memikirkan
cara untuk mengelabui Ibu. Kemudian ia mendapatkannya.
“Kamu kenapa?” Tanya Ibu yang melihat Citra memegang
perutnya yang menggelembung sambil meringis. Citra menampilkan ekspresi
kesakitan dan berkata, “Sakit perut, Ma. Aku ke kamar dulu, ya.” Kemudian ia
berlalu.
Citra memperhatikan Willis makan.
Willis hanya makan daging ikan dan nasi, tidak mengunyah-ngunyah tulang atau
menggerogoti kepala ikan seperti kucing yang pernah dilihatnya. Setelah
makanannya habis, Willis menjauhi papan ujian tempat menaruh makanannya itu.
Citra mengangkat tulang ikan di
depan Willis. “Kamu gak mau makan ini?” Katanya seraya menggoyang-goyangkan
tulang tersebut untuk membujuk Willis. Willis yang kekenyangan menggelengkan
kepala layaknya manusia. Citra membelalak. Ia menjatuhkan tulang yang tadi
dipegangnya dan menjauh sedikit. Ia tidak menyangka Willis mengerti
kata-katanya. Kemudian, dengan mata dan telinganya sendiri, Citra menyaksikan
Willis bersendawa. Kaki-kaki kecil bercakar itu menutupi mulutnya setelah
selesai. Citra menggeleng-geleng dan naik ke tempat tidur. Matanya sebundar
bola pingpong.
“Kamu...kamu bisa....” Dengan
terbata-bata Citra berusaha berbicara namun ia duduk terpaku. Terdengar suara
Ibu di pintu.
“Citra?”
“Se, sebentar, Ma!” Sahut Citra. Ia
segera membereskan sisa-sisa makanan Willis. Kemudian ia mendorong Willis yang
terkantuk-kantuk ke bawah ranjang. Citra bergegas mengambil handphone yang
tergeletak di atas meja belajar. Akhirnya, ia membuka pintu.
“Kamu ngomong sama siapa?” Tanya
Ibunya yang kini sudah berdiri di tengah kamar Citra.
Citra pura-pura menelepon. Ia
berkata ke hp-nya “sebentar ya” dan dengan akting yang hampir sempurna ia
menutup hp-nya dengan salah satu tangan. “Ngobrol sama temen, Ma,” jawab Citra.
Ibunya mengangguk, lalu menyerahkan
sebotol obat sakit perut pada Citra. Belum sempat ia bicara apapun, sesuatu
menggelitik hidungnya dan ia bersin dua kali.
“Ya ampun, Citraaa! Sudah Mama bilang
kamarmu harus tiap hari dibersihkan!” Jerit Ibunya dengan hidung merah. Citra
berdoa supaya Ibunya tidak menemukan Willis. “Iya, Ma. Nanti aku bersihkan
semuanya!” Dan alangkah leganya ia ketika melihat Ibunya berderap pergi dengan
jengkel. Citra cepat-cepat menutup pintu.
Citra
menunggu Willis bangun sampai sore hari. Selama itu pula ia mengutak-atik jam
tangannya yang rusak. Jam model laki-laki itu diberikan oleh Ibunya ketika ia
berulang tahun yang ke-15. Namun, karena kesalahan pemakaian atau entah apa,
jam itu tak lebih dari sebuah layar kecil, kait, dan rantai emas. Citra terlalu
takut untuk memberitahu Ibunya tentang kerusakan jam tersebut, dan jelas-jelas
tidak berani minta yang baru. Sudah sebulan ini ia berusaha memperbaikinya,
tapi sepertinya hal itu sia-sia.
Citra menoleh ketika ia melihat
Willis menggerak-gerakkan matanya. Citra sudah berpikir dalam-dalam. Karena
Willis mengerti apa pun yang diucapkan Citra, Citra berniat untuk meminta
informasi tentang siapa Willis sebenarnya. Citra benar-benar duduk tegak
melihat Willis sudah benar-benar terjaga.
“Willis,” Citra menjilat bibirnya.
“Kamu ngerti apa yang aku omongin?”
Willis mengangguk kebas. Citra
menganga, lalu kembali mengatupkan bibirnya.
Ia berkata, “Kamu pasti bukan kucing!
Ya, kan?”
Willis menatap Citra, tapi tidak
mengatakan apa-apa. Citra menuding Willis, menahan suaranya supaya tidak
terdengar seperti teriakan. “Aku gak mau omong kosong, Willis. Tunjukkan wujud
aslimu!” Seketika kilat muncul sesaat diiringi dengan guntur yang bergemuruh.
Citra mulai khawatir. Ia membayangkan adegan-adegan di film yang menampilkan
seseorang mendapat masalah karena berhadapan dengan suatu makhluk yang
diperlakukan buruk. Citra bergidik. Dan hujan pun turun dengan lebatnya.
Citra mulai waspada melihat Willis
berjalan menuju jendela kamarnya. Ia memberanikan diri untuk ikut melihat
sesuatu dan disana, di halaman rumahnya yang diguyur hujan deras, ia melihat
seseorang berjalan dengan sangat perlahan menuju rumahnya. Tubuhnya
terbungkuk-bungkuk. Ia memegang payung dengan tangan gemetar karena angin cukup
kencang untuk menerbangkannya. Citra berpikir pastilah ia peminta-minta. Tapi
kemudian ia menoleh ketika Willis mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan cakarnya,
dan sangat ajaib, wanita tua itu menoleh ke arah Willis dan tersenyum padahal
suara hujan yang deras sudah terasa menulikan telinga.
Ketika akhirnya wanita tua itu sudah
sampai di teras, Willis melesat ke arah pintu. Ia berdiri di atas dua kaki dan
tubuhnya perlahan-lahan menjadi tinggi, hampir setinggi Citra. Kemudian ia
memutar kenop pintu, menjadi kucing kecil lagi, lalu berlari menuju pintu
depan. Citra yang melihat semua itu sangat ketakutan. Ia menempelkan dirinya ke
tembok. Semuanya mulai masuk akal. Willis tidak mengeong sejak Citra
menemukannya; pintu kamar yang terbuka; makanan yang tersisa; gelengan dan
anggukan kepala; sendawa dengan menutup mulut. Citra mulai mengerti. Ia pun
bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ibu sedang berdiri di ambang pintu
depan. Citra mendekat dan melihat seorang wanita tua dengan kucing di
gendongannya. Ibu melirik ke arah Citra dan bagaikan magnet, mata mereka
bertemu. Ada seringai menyeramkan di wajah mulus Ibunya. Hidungnya yang semerah
bunga mawar mulai kembang-kempis.
“Citra,” katanya lambat-lambat.
“Coba kamu jelaskan kenapa bisa ada kucing keluar dari kamarmu?”
Citra tergagap mencari kata-kata.
“Ma...ma..aku..aku..”
“Kucing ini peliharaan saya. Saya
yang menitipkannya pada anak Anda. Saya harap Anda tidak keberatan.”
Mereka terdiam. Wanita tua itu yang
berbicara. Ibu bersiap akan bersin lagi tapi sebelum itu terjadi wanita
tersebut menyemprotkan suatu cairan ke arah Ibu. Ia tidak jadi bersin.
“Apa itu?” Tanya Citra.
“Ini salah satu ramuan saya. Ibumu
tidak akan alergi lagi terhadap hewan apa pun.”
Mereka masih diam. Pikiran Citra dan
Ibunya hampir bertemu. Mereka memikirkan hal yang sama: Makhluk ini bukan
manusia.
Wanita tersebut berdeham. “Saya rasa
saya harus pergi sekarang... Terimakasih sudah merawat Willis,” katanya pada
Citra. Lalu Wanita tua itu berbalik untuk pergi tapi Citra mencegatnya. Ia
bertanya soal Willis.
“Oh dia,” wanita itu terkekeh.
“Kucing ini memang bisu. Sengaja saya membuatnya begitu supaya orang-orang yang
kebagiannya merawatnya tidak kesusahan. Dia juga saya buat setengah manusia
supaya bisa membantu saya.” Kemudian wanita itu berbisik pada Willis. Ia
menurunkannya dan Willis berjalan mendekati Citra. Ia memegang jam tangan Citra
yang rusak. Citra mengambilnya. Jam itu menyala.
“Bagaimana bisa ada di kamu?” Citra
terbelalak. Tapi Willis sudah kembali ke gendongan majikannya dan mereka pun
berbalik pergi. Dalam derasnya hujan, Citra melihat Willis melambaikan tangan
padanya.*****
Epilog
“Pilih
satu aja, ya, Ra!” Ibunya mengingatkan.
“Sip!” Jawab Citra.
Hari itu Minggu, jadi Ibu membawa
Citra ke toko hewan peliharaan untuk membelikannya seekor kucing. Citra girang
luar biasa. Sudah berpuluh-puluh menit ia mondar-mandir di antara
keranjang-keranjang besi yang memisahkannya dengan kucing-kucing terawat itu.
Citra berhenti pada sebuah keranjang
yang tidak terlalu besar. Di dalamnya kucing berbelang tiga—putih, hitam,
kuning—menarik perhatiannya. Ia mendekat ke arah keranjang dan membelai kucing
mungil tersebut. Ia merasakan sentakan kerinduan. Sudah seminggu berlalu sejak
Willis pergi.
Citra memutuskan untuk membeli
kucing tersebut. Tapi Ibunya mengerutkan dahi.
Ibu
berkata, “Masih banyak yang lebih bagus daripada ini, Citra.”
Citra merajuk seperti anak kecil. “Tapi aku mau yang ini, Ma.” Ibu hanya mendesah lalu berjalan ke kasir. Mereka pun pulang.
Citra merajuk seperti anak kecil. “Tapi aku mau yang ini, Ma.” Ibu hanya mendesah lalu berjalan ke kasir. Mereka pun pulang.
Di rumah, Citra langsung mengajak
peliharaan barunya masuk ke kamar. Ia mulai memikirkan sebuah nama.
“Bagaimana kalau Willis?” Tanya
Citra pada kucing itu. “Mmm, kamu mengingatkan aku sama kucingku dulu. Dia
mirip kamu.” Citra menjawil hidung kecil Willis. Lalu ia memeluk Willis, merasa
bersyukur memilikinya sekarang.
“Willis nama yang bagus,” sebuah
suara berkata. Mata Citra membelalak, jantungnya berdegup. Ia melepas rangkulan
tangannya pada Willis. Citra tiba-tiba merasa pening. Ia berkata, “Kamu bisa
bicara?”
Dengan santai Willis mengangguk.
Citra sudah hampir menangis. Ia berteriak, “Maamaaaa!!”
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar