Mungkin kedengarannya agak kekanakan ya? Tapi begitulah, semua orang pasti punya cinta pertama. Banyak yang bilang bahwa cinta pertama seorang gadis adalah ayahnya. Well, itu gak perlu masuk hitungan. Aku yakin kita semua sependapat. Nah, yang kumaksud first love disini tak lain adalah seorang aktor dari negeri ginseng. Yup, Korea Selatan!
Ah, jangan mendesah dulu. Aku bukan seperti orang kebanyakan yg fanatik dengan beragam oppa dari beragam profesi. Hanya satu orang yang selalu kunantikan kehadirannya. Satu. The one and only. Siapa diaaa?
Baik, supaya tulisan ini cukup panjang, akan kupaparkan dulu karakteristiknya. Selayaknya aktor, sudah pasti dia punya paras yang rupawan (faktor utama ha-ha). Kelopak matanya kelewat sipit sampai-sampai teman-temanku menjadikannya bahan olokan. Bibirnya lebih pantas dibilang macho alih-alih maho, ha-ha. Karena, yah--buat K-lovers jangan tersinggung ya--some of korean oppa, bagiku, kelihatan seperti orang melambai alih-alih maskulin. Tapi yang satu ini pengecualian. He's so crazy handsome korean guy I've ever seen. [Gilak, jadi alay!] Terserah bagi kalian yang kurang setuju, itu urusanmu. Protes pun silahkan, toh aku hanya fanatik, bukan simpatik.
Sudah dapat gambaran? Hm, mungkin masih terlalu kasar, ya. Baik, akan kuberikan rangkaian drama yg pernah dimainkannya. Pertama kali kulihat perannya dalam Drama "Angry Mom". Disanalah istilah first love ini muncul. Lalu kutemukan lagi dia di "Cheer Go Up". Perannya sebagai penindas semakin membuatku suka . "Scarlet Heart Ryeo" dan "Weightlifting fairy, Kim Bok Joo" merupakan sederetan drama yang mengobati kerinduanku akan wajah imutnya (♥) . Sekarang aku benar-benar kekanakan, kan? Nah, sudah bisa ditebak?
Terlepas dari rasa penasaran kalian, akan kujelaskan mengapa judul tulisan ini ada "hopelessness"-nya. Okay. Bicara tentang harapan, tentunya tak ada yang bisa menghalangi siapapun untuk berharap, bukan? Tapi yaa realistis juga, dong, bung. Ibarat seekor ikan yang ingin hidup di daratan, beginilah kira-kira harapanku akan dia (Ciee). Tak perlu panjang lebar, kukira kalian pasti sudah paham.
Aah, post ini jadi kelewat panjang, ya. Akupun sudah kehabisan kata-kata. Well, namanya Ji Soo--jika kalian masih belum tau.
Postingan berikutnya akan kutunjukkan foto-foto Ji Soo yang--kata sekutuku--so ganteng (ha-ha).
Sudah dulu, ya.
Terimakasih sudah meluangkan waktunya untuk membaca.
See you !
Kamis, 20 April 2017
Selasa, 18 April 2017
See You again
Rasanya hampa sekali. Kulihat lagi foto-foto yang tersenyum itu, seakan bilang padaku untuk bersabar. Bahwa kita pasti bertemu kembali.
Sudah beberapa hari belakangan ini aku bersedih tanpa alasan. Mungkin karena perpisahan yang kurang membekas. Mungkin tumpukan air mata yang tak kunjung tumpah. Atau mungkin perasaanku selama 3 tahun ini yang terpendam jauuuh didalam relung pikiran, yg tak sempat terucapkan lantaran aku tak pandai menyusun kata. Ah, seharusnya aku bahagia tanggal 17 kemarin. Seharusnya aku mengabadikan wajah mereka bersamaku. Satu per satu. Namun entah mengapa aku tidak bisa. Semua orang pada hari itu menangis, lalu tertawa. Aku satu-satunya yang memasrahkan diri pada keadaan. Aku duduk di bawah pohon. Mengamati lambaian rok abu yang sama lelahnya seperti diriku. Angin berembus. Untung saja suasananya sejuk. Seseorang memanggil. Saatnya potret bersama.
Aku mau berkilas balik pada menit-menit sebelumnya, ketika kami semua masih di ruang kelas, saling berbagi kesan, pesan, dan harapan. Lebih setengahnya dari jumlah yang hadir berdiri di depan kelas, menyampaikan maaf dan terima kasih. Aku hanya duduk diam mendengarkan. Semuanya berharap untuk kesuksesan bersama, dan tentu saja mohon doa untuk diri sendiri. Ada yg tak kuasa menahan tangis. Ada juga yang tersenyum seolah-olah mereka hanya pamit pulang, dan besok akan datang lagi. Hingga detik ini, aku bahkan tidak menangis. Apa yang salah dengan si melankolis ini? Benarkah hatiku sekeras karang?
Kuakui, baru sekarang aku merasa kosong. Perpisahan itu lumrah, memang. Aku tau sebentar lagi kami akan benar-benar menyebar. Bahkan ada yang sangat jauh sampai ke negeri jiran. Hanya satu inginku. Suatu saat nanti, saat takdir berpihak pada kita, tetaplah tersenyum satu sama lain seperti foto kalian di buku tahunan sekolah. Jangan acuh. Karena seperti kita tau, sakitnya dilupakan teman lama sama seperti belati yang dihujamkan ke dada.
#Excifio
#Seeyou
Sudah beberapa hari belakangan ini aku bersedih tanpa alasan. Mungkin karena perpisahan yang kurang membekas. Mungkin tumpukan air mata yang tak kunjung tumpah. Atau mungkin perasaanku selama 3 tahun ini yang terpendam jauuuh didalam relung pikiran, yg tak sempat terucapkan lantaran aku tak pandai menyusun kata. Ah, seharusnya aku bahagia tanggal 17 kemarin. Seharusnya aku mengabadikan wajah mereka bersamaku. Satu per satu. Namun entah mengapa aku tidak bisa. Semua orang pada hari itu menangis, lalu tertawa. Aku satu-satunya yang memasrahkan diri pada keadaan. Aku duduk di bawah pohon. Mengamati lambaian rok abu yang sama lelahnya seperti diriku. Angin berembus. Untung saja suasananya sejuk. Seseorang memanggil. Saatnya potret bersama.
Aku mau berkilas balik pada menit-menit sebelumnya, ketika kami semua masih di ruang kelas, saling berbagi kesan, pesan, dan harapan. Lebih setengahnya dari jumlah yang hadir berdiri di depan kelas, menyampaikan maaf dan terima kasih. Aku hanya duduk diam mendengarkan. Semuanya berharap untuk kesuksesan bersama, dan tentu saja mohon doa untuk diri sendiri. Ada yg tak kuasa menahan tangis. Ada juga yang tersenyum seolah-olah mereka hanya pamit pulang, dan besok akan datang lagi. Hingga detik ini, aku bahkan tidak menangis. Apa yang salah dengan si melankolis ini? Benarkah hatiku sekeras karang?
Kuakui, baru sekarang aku merasa kosong. Perpisahan itu lumrah, memang. Aku tau sebentar lagi kami akan benar-benar menyebar. Bahkan ada yang sangat jauh sampai ke negeri jiran. Hanya satu inginku. Suatu saat nanti, saat takdir berpihak pada kita, tetaplah tersenyum satu sama lain seperti foto kalian di buku tahunan sekolah. Jangan acuh. Karena seperti kita tau, sakitnya dilupakan teman lama sama seperti belati yang dihujamkan ke dada.
#Excifio
#Seeyou
Jumat, 16 Desember 2016
Rumahku, INDONESIA
Siapa sangka
Tanah
tempatku berpijak ini sudah lama berjuang
Tekanan
menerpa bak gulungan ombak menerjang pesisir
Guyuran peluh
serta degup jantung senantiasa menggelayuti
Aku disini,
teronggok kaku menatap layar kaca
Mataku
mengikuti alur kanan kiri pahlawan kami
Tak bisa
dielakkan lagi, meski bukan pertumpahan darah, ini adalah perihal hidup dan
mati
Bangsa kami
sejak dulu meronta
Penjajah
bejat menyisakan derita dan luka
Kami terbiasa
susah duluan
Namun
itupula-lah yang menggelorakan hayat
Pusaka kami
berhasil dikibarkan
Bangsa lain
pun mengakui kami sebagai sebuah kebebasan
Sekarang
mereka sadar, tanah pertiwi ini bukan arena permainan
Esok adalah
puncaknya
Tidak, bukan
puncak !
Hanya
setingkat lebih tinggi dari anak tangga kesekian
Tak ada
istilah akhir bagi kami
Tapi
sekiranya takdir digenggaman, esok mentari akan bersimpuh memohonkan kejayaan
Esok rembulan
akan menjadi saksi kedigdayaan yang pertama
Dan berjuta
rakyat bangsa bersorak sumringah
Ini bukan
harapan, melainkan kewajiban
Indonesiaku
harus kembali pulang dengan trofi kemenangan
Selasa, 05 Mei 2015
Bocah Besar yang Kecil
Pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang anak berumur limabelas tahun bernama Tarania. Ibunya meninggal sesaat setelah melahirkannya. Sementara Ayahnya pergi entah kemana. Alasannya tampak jelas. Ia tampaknya berbeda dari teman-teman sebayanya. Tubuhnya kelewat tinggi, bahkan lebih tinggi dari tiang listrik. Keadaan ini digunakan oleh anak-anak di kampungnya untuk mengejeknya. Tak jarang ia dilempari batu karena dianggap raksasa aneh. Bahkan para orang tua melarang anaknya untuk bermain dengan Tarania. Akhirnya Tarania tidak punya teman dan terus berdiam diri di dalam rumahnya yang terbuat dari kumpulan batu di huta
Tahun
ini panas melanda seluruh kawasan. Hujan tidak pernah turun dalam beberapa
bulan padahal seharusnya ini adalah
musim penghujan. Masyarakat tidak henti-hentinya berdoa untuk kesuburan tanah
mereka. Padi-padi berubah warna menjadi coklat lalu kering dan mati.
Tanah-tanah persawahan retak, seakan telah terjadi gempa besar . Sumur-sumur
kering. Bahkan sungai—yang merupakan sumber air utama di kampung itu—mulai
mati.
Di
hutan, Tarania sedang berada di guanya
dan tengah meminum air. Ia juga merasakan hal yang sama. Panas. Setiap beberapa
menit ia tak henti-hentinya meminum air yang berasal dari tanah di guanya.
Kemudian, dalam keheningan hutan, ia mendengar suara gemeresak daun kering yang
diinjak. Telinganya berdiri waspada. Tak pernah ada hewan yang bisa bicara.
Dengan sedikit bersembunyi, Tarania mengintip keluar melalui sebuah lubang
kecil. Dan disana ia melihat ada dua orang laki-laki tengah bercakap-cakap.
Pemuda
pertama berkata, “Tak pernah seperti ini sebelumnya. Apa yang salah dengan
kita?”
Pemuda
lainnya menyahut, “Kita sudah menyumbangkan hewan ternak kita pada Dewa. Apa
lagi? Sekarang hewan-hewan itu mati dan kita kehabisan air!”
“Sungai
pun kering. Hutan ini semenyedihkan sungai itu. Aku tidak yakin kita bisa dapat
hewan di hutan yang daunnya sudah meranggas.” Mereka berlalu membawa caci maki
terhadap alam.
Tarania
terduduk di tanahnya yang lembab, mencoba mencerna masalah teman-teman
kampungnya. Kita kehabisan air
terngiang-ngiang dalam telinganya. Ia menatap tanah lembab itu. Dengan sekali
menekan telapak kaki dengan kuat, mata air bermunculan dan air menghambur
keluar seolah air tersebut kepanasan terkurung di bawah tanah. Hewan-hewan
memang langka, tetapi air di guanya tercukupi. Tarania pun memutuskan untuk membantu
teman-temannya secara diam-diam karena ia masih takut untuk memperlihatkan
dirinya. Malam ini juga, pikirnya, malam ini aku akan mengisi kembali sungai
itu.
Keesokan
harinya, pagi-pagi sekali bahkan sebelum ayam berkokok, teriakan seorang petani
memecah kesunyian dan memaksa orang-orang untuk keluar dari rumah mereka. Di
luar berangin. Gemericik air terdengar dari kejauhan. Serta merta mata mereka
membelalak mendengar suara yang sangat dirindukan itu. Bersama-sama, mereka
berlomba menuju asal suara dan disana, di sebelah petani, air mengalir dengan
jernihnya, menciptakan suara-suara khas yang
membuat mereka ingin meminumnya sekarang juga. Seraya mengucapkan
syukur, mereka minum, mencuci wajah, mengambil wadah dari rumah lalu
menampungnya. Tarania melihat semua itu dengan senyuman. Ia senang bisa
membantu teman-temannya meskipun mereka tidak tahu.
Semua
orang akhirnya kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Irigasi di sawah
mulai lancar kembali. Hewan-hewan ternak yang tersisa kembali sehat dan
berkembang biak dengan cepat. Kampung itu pun kembali subur.
Seperti
kebiasaan sebelumnya, dua orang pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di
tengah-tengah hutan, mereka bertemu dengan kawanan beruang yang sedang
berkelahi. Mereka berserobok pandang dengan beruang-beruang itu dan tanpa
aba-aba, mereka berlari ketakutan. Dengan panik mereka mencari tempat
perlindungan dan menemukan sebuah gua yang sangat besar, mereka akhirnya
bersembunyi di balik lekukan batu-batu besar di dalam gua tersebut. Mereka terengah-engah,
tak menyadari sosok besar yang mengintip sampai salah satu dari mereka
berteriak ketakutan seraya menggengam kapak. Mengayun-ayunkan kapak itu hendak
melawan. Sosok besar itupun menampakkan dirinya ketika beruang-beruang itu
mulai memasuki gua. Ia menghalau mereka untuk meninggalkan rumahnya.
Beruang-beruang tersebut akhirnya pergi setelah melihat Tarania. Keadaan
seketika hening. Dua orang pemuda tadi mulai memberanikan diri.
Pemuda
pertama memiringkan kepala. Ia berkata, “Kau bukannya raksasa aneh yang
menghilang?”
Tarania
duduk di sebelah mereka. Mereka bergerak menjauh untuk membuat jarak. “Nama
saya Tarania. Apa kalian lupa?”
“Hm,
tidak juga,” Pemuda kedua menyahut. “Kau yang meresahkan warga kampung, kan?
Kenapa kau masih tinggal di lingkungan kami?”
Tarania
berpikir sejenak. “Saya rasa saya tidak pernah membuat warga resah.”
“Itu
menurutmu. Dan kalau tidak keberatan, kami mau pergi,” tukas pemuda kedua. Lalu
ia menambahkan “terima kasih” yang kelihatannya tidak begitu tulus. Mereka lalu
berjalan ke mulut gua dan tiba-tiba saja sesuatu yang basah mengenai sepatu
kulit mereka. Salah satu dari mereka memekik, tapi yang lainnya langsung
menenangkan temannya yang terlihat sama terkejutnya dengan dia. Mereka saling
pandang, kemudian menunduk lagi untuk memastikan bahwa air itu memang ada. Kemudian mereka berlari keluar menuju
kampung.
Tarania
terduduk lesu. Ia sudah sangat merindukan seorang teman untuk diajak bermain.
Dia pikir dua orang pemuda tadi bisa duduk dengannya dan mengobrol. Tapi sangat
jelas bahwa ia membuat mereka ketakutan. Tarania merasa frustasi. Dan
satu-satunya obat penangkal untuk itu adalah tidur.
Entah
mimpi entah apa, ia terbangun dengan kepala berat. Suara-suara itu berisik
sekali, pikirnya. Ia menyipitkan mata melihat cahaya yang berkelap-kelip di
depan gua. Suara orang-orang yang berteriak menyuruhnya keluar. Tarania
merasakan alisnya berkerut. Demi Tuhan, mengapa mereka membawa obor? Tarania
kemudian mengerti. Mereka ingin memusnahkannya karena tahu ia masih hidup. Dua
orang pemuda tadi yang membawa berita. Tarania keluar gua dengan lesu. Ia mulai
pasrah.
“Ternyata
kau masih hidup, Raksasa!” Hardik seorang wanita tua. Ia menggoyang-goyangkan
tongkatnya menunjuk Tarania. Tarania menunduk, tak tahu harus berkata apa.
Salah
satu pemuda mendekatinya. Sepertinya ia adalah cucu nenek tersebut. “Sudahlah
nenek. Bukankah kita sudah sepakat untuk tidak memakai drama itu?”
Nenek
itu mengerjap sedikit. Merasa malu. “Tapi, tadi....bukannya...”
Pemuda
tersebut menggeleng lambat. “Tadi kami sudah membatalkannya karena kami tahu
itu hanya membuang waktu saja. Mungkin nenek lupa.”
Tarania
melihat semuanya dengan mulut menganga. Ia tidak mengerti mengapa mereka
tiba-tiba membicarakan drama. Ia masih diam, mengamati wajah-wajah yang
tertimpa cahaya api. Sama sekali tak ada kemarahan di wajah mereka. Ada yang
memasang wajah sendu, tapi kebanyakan tersenyum ceria. Seketika Tarania
terkejut melihat sesuatu menyentuh kakinya. Nenek tadi.
“Terimakasih
atas segala yang kauberikan pada kami,” ia berkata. Lalu orang-orang di
belakangnya membungkuk sedikit untuk memberi hormat.
“Aku...saya
tidak mengerti apa yang kalian bicarakan,” jawab Tarania. Lalu seseorang
menjelaskan semuanya tapi mata Tarania tertuju pada dua pemuda yang tadi dikejar
beruang. Ia melihat mata mereka berbinar dihiasi senyum yang lebar. Kemudian ia
menoleh ke arah guanya untuk melihat mata air itu. Jejak kakinya terlihat jelas
seolah sudah disiapkan untuk menampung air. Ia mulai mengerti.
“Awalnya
kami kira kaki sebesar itu adalah kaki Dewa kami yang turun tengah malam untuk
melihat kami kemudian menyediakan air sungai itu lagi. Tapi ternyata...”
Seseorang menggantungkan kalimatnya lalu menggeleng tidak percaya. Ia tersenyum
lalu menambahkan, “Ikutlah bersama kami ke kampung. Kami tak tahu bagaimana
berterimakasih dengan layak.”
Tarania
tidak percaya. Ia diminta kembali.
Seorang wanita paruh baya mendekatinya lalu berkata, “Kau tak tahu betapa besar
bantuanmu.” Lalu wanita lainnya menggiring Tarania menuju kampung sambil
berceloteh tak henti-henti. “Kau mau apa, sayang? Aku bisa membuatkan roti
lapis sebesar rumah untukmu.”
“...ayam
goreng? Aku yakin kau belum makan sejak...”
“...susu
sapi! Ya. Kau akan memperoleh...”
“...banyak
hewan-hewan yang mati. Yang tersisa akan kami berikan pada...”
Tarania
tidak mengucapkan apa-apa selain terimakasih. Ya terimakasih. Ia tidak habis
pikir kebaikan yang selama ini ia sembunyikan sudah tercium baunya dan mereka
semua sangat menghargai jasanya.
Di
perjalanan menuju kampung, Tarania tidak henti-hentinya mengucap syukur kepada
Tuhan. Ia berdiri di tengah-tengah manusia yang bertinggi seperenam dari
kakinya, dan ia tidak merasa besar. Ia merasa ukuran tubuhnya sama saja dengan
mereka. Fisiknya memang sangat besar namun, jauh di lubuk hati, mereka
sama-sama manusia.
Semakin
mendekati kampung, orang-orang semakin ribut meneriakkan maaf mereka. Tarania
menerima semuanya dan menegaskan bahwa mereka tidak punya salah. Mendengar itu
mereka berkumpul dan memeluk kaki Tarania. Tak ada yang bisa diucapkan. Tak ada
yang bisa dilakukan. Tarania menangis untuk pertama kalinya.
WILLIS
Suatu
malam yang dingin dan mendung pada akhir bulan Desember.
Seorang wanita tua berjalan perlahan
ditengah dinginnya malam tahun baru. Ia membawa sebuah keranjang rotan yang
dirajut dengan rapi. Bagian atas keranjang tersebut tertutup sebuah kain kumal.
Ia melangkah masuk ke sebuah halaman rumah seseorang yang di dalamnya
sepertinya sedang mengadakan sebuah pesta. Anehnya, tak ada yang menyadari
kehadirannya. Semua orang berkumpul di satu tempat, tengah menyalakan kembang
api dan meluncurkan mercon. Wanita tua itu melangkah ke sebuah jendela kamar
lalu meletakkan keranjang rotan disana. Ia kemudian membungkuk ke arah
keranjang dan membuka sedikit tutupnya. Kucing kecil yang berada di dalam sana
mendongak ke arahnya.
Wanita itu berbisik, “Aku akan
kembali secepatnya.”
Kucing berbelang tiga itu mengangguk
perlahan, lalu wanita tua tersebut menghilang secepat kilat.
Pukul 02.00 dini hari, semua orang
bersiap-siap naik ke tempat tidur. Citra sudah akan mematikan lampu kamarnya
ketika mendengar suara di sekitar jendela. Ia sudah begitu mengantuk
sampai-sampai tidak bisa memusatkan mata. Ia menyibakkan tirai dan melihat
seekor kucing kecil sibuk menggaruk-garuk kaca jendela. Kontan matanya
membelalak. Ia cepat-cepat membuka jendela dan mengangkat keranjang kucing itu.
Ia meletakkan keranjang tersebut di lantai.
“Kamu datang darimana, sobat?” Tanya
Citra, tak mampu menyembunyikan kegirangannya. Ia sudah begitu lama menginginkan
hewan peliharaan, khususnya kucing. Selama hidupnya ia selalu berusaha membujuk
Ibunya untuk membolehkan seekor kucing berkeliaran di kamarnya atau di rumah
ini atau dimana pun. Tapi Ibunya, seperti halnya orang yang alergi terhadap
bulu-bulu dan debu, dengan tegas menolak. Dan Citra memang sudah sepantasnya
untuk menuruti.
Tapi kali ini Citra mengangkat
kucing itu tinggi-tinggi lalu memeluknya dan mengelus-elus kepalanya. Kucing
ini bersih, pikir Citra, jadi pasti ada pemiliknya sebelum akhirnya dibuang dan
ajaib sekali bisa sampai di rumah Citra lengkap dengan keranjangnya. Ia memeluk
kucing itu sekali lagi.
Citra akhirnya bergumam, “Gak peduli
Mama bilang apa. Sekarang aku punya kamu...” Citra terdiam sejenak, lalu ia
melanjutkan, “Willis.” Dan begitulah Citra menimang-nimang Willis layaknya Ibu
dan anak. Rasa kantuk Citra hilang. Ia begitu bersyukur sekaligus heran: Willis
tidak bersuara.
Tidak
ada yang bangun sebelum pukul 12 siang, kecuali Citra. Ia terbangun pada pukul
08.00, begitu bersemangat untuk melihat Willis lagi. Tapi ketika ia membungkuk
ke arah keranjang, Willis tidak ada. Ia memanggil-manggil nama Willis, mencari
di bawah tempat tidur. Siluetnya pun tidak terlihat. Citra kembali menegakkan
tubuhnya dan ketika itulah ia melihat. Ia melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.
Pikiran Citra langsung berkelana dan tiba pada Ibunya. “Ibu!” Serunya sambil
berbisik. Ia lalu cepat-cepat keluar kamar.
Suasana rumah sangat sepi. Semua
pintu kamar tertutup rapat. Di kasur tipis depan tv, kakaknya, Angga, sedang
tidur dengan memeluk bantal. Citra berjingkat ke kamar Ibunya. Tiba-tiba saja
Citra jadi tidak yakin bahwa Ibunya yang masuk ke kamarnya. Bagaimana pun kunci
kamarnya hanya satu.Tapi ia tetap memutuskan untuk hanya sekedar bertanya. Jadi
setengah berlari ia menuju kamar Ibunya. Tapi kemudian ia memperlambat
langkahnya karena ada suara dari dapur. Karena mengira itu Willis, Citra lantas
berjalan perlahan menuju dapur dan benar saja! Willis tengah menjilat-jilat
piring bekas ikan bakar tadi malam. Melihat ada sesuatu yang datang, Willis
terkejut setengah mati dan tanpa sadar kakinya menyenggol piring kaca tersebut.
Tak ada yang bisa menghalangi. Piring itu hancur berantakan dan mengacaukan
keheningan di rumah Citra. Tubuh Angga tersentak sedikit. Citra menahan nafas
sampai kakaknya tidak bergerak lagi.
“Ssst, jangan ribut, Willis. Kalau
ada orang yang tau kamu disini, mereka bakal buang kamu!” Desis Citra seraya
mengangkat Willis dari undukan beton dan meletakkannya di sisi yang lain.
Dengan sangat perlahan, Citra memungut pecahan piring lalu cepat-cepat
membuangnya di tempat sampah sebelah kompor gas. Ia menyapu pecahan yang lebih
kecil dan membuangnya di tempat yang sama. Setelah selesai, ia mengendong
Willis ke kamarnya.
Citra menutup pintu di belakangnya.
“Kamu lapar, ya?” Tanyanya pada Willis. Willis hanya mendongak menatap Citra.
Citra kembali membuka pintu dan menggoyang-goyangkan jarinya pada Willis untuk
jangan coba-coba keluar kamar lagi, walaupun ia tahu bahwa Willis tidak
mengerti sedikit pun ucapannya.
Untuk
pertama kalinya dalam setahun, keluarga Citra menyantap sarapan pada pukul satu
siang. Citra makan lambat-lambat padahal ia lapar sekali. Ia sengaja membiarkan
semua orang selesai sebelum dia supaya ia bisa mengambil sedikit makanan untuk
makan siang Willis. Yang membuat Citra cemas adalah Ibu menungguinya, tidak
seperti biasa. Citra makan sambil menunduk, berharap sekali sesuatu terjadi
sehingga Ibunya pergi.
“Selesaikan cepat makanmu, Ra!”
Perintah Ibu dengan nada biasa-biasa saja sudah membuat jantung Citra melompat.
“Ma, mama istirahat aja. Biar aku
yang beresin semua,” ujar Citra sesantai mungkin.
Ibunya tersenyum kecil seraya
menumpuk piring-piring kotor. “Biar Mama aja. Kamu mendingan belajar”
Dengan terpaksa, Citra menghabiskan
makanannya dan ketika Ibunya pergi ke dapur, ia mengambil sedikit nasi panas
dan ikan goreng setengah utuh kemudian menaruhnya di lipatan baju. Ia bergegas
meninggalkan meja makan ketika Ibunya kembali. Citra duduk lagi, memikirkan
cara untuk mengelabui Ibu. Kemudian ia mendapatkannya.
“Kamu kenapa?” Tanya Ibu yang melihat Citra memegang
perutnya yang menggelembung sambil meringis. Citra menampilkan ekspresi
kesakitan dan berkata, “Sakit perut, Ma. Aku ke kamar dulu, ya.” Kemudian ia
berlalu.
Citra memperhatikan Willis makan.
Willis hanya makan daging ikan dan nasi, tidak mengunyah-ngunyah tulang atau
menggerogoti kepala ikan seperti kucing yang pernah dilihatnya. Setelah
makanannya habis, Willis menjauhi papan ujian tempat menaruh makanannya itu.
Citra mengangkat tulang ikan di
depan Willis. “Kamu gak mau makan ini?” Katanya seraya menggoyang-goyangkan
tulang tersebut untuk membujuk Willis. Willis yang kekenyangan menggelengkan
kepala layaknya manusia. Citra membelalak. Ia menjatuhkan tulang yang tadi
dipegangnya dan menjauh sedikit. Ia tidak menyangka Willis mengerti
kata-katanya. Kemudian, dengan mata dan telinganya sendiri, Citra menyaksikan
Willis bersendawa. Kaki-kaki kecil bercakar itu menutupi mulutnya setelah
selesai. Citra menggeleng-geleng dan naik ke tempat tidur. Matanya sebundar
bola pingpong.
“Kamu...kamu bisa....” Dengan
terbata-bata Citra berusaha berbicara namun ia duduk terpaku. Terdengar suara
Ibu di pintu.
“Citra?”
“Se, sebentar, Ma!” Sahut Citra. Ia
segera membereskan sisa-sisa makanan Willis. Kemudian ia mendorong Willis yang
terkantuk-kantuk ke bawah ranjang. Citra bergegas mengambil handphone yang
tergeletak di atas meja belajar. Akhirnya, ia membuka pintu.
“Kamu ngomong sama siapa?” Tanya
Ibunya yang kini sudah berdiri di tengah kamar Citra.
Citra pura-pura menelepon. Ia
berkata ke hp-nya “sebentar ya” dan dengan akting yang hampir sempurna ia
menutup hp-nya dengan salah satu tangan. “Ngobrol sama temen, Ma,” jawab Citra.
Ibunya mengangguk, lalu menyerahkan
sebotol obat sakit perut pada Citra. Belum sempat ia bicara apapun, sesuatu
menggelitik hidungnya dan ia bersin dua kali.
“Ya ampun, Citraaa! Sudah Mama bilang
kamarmu harus tiap hari dibersihkan!” Jerit Ibunya dengan hidung merah. Citra
berdoa supaya Ibunya tidak menemukan Willis. “Iya, Ma. Nanti aku bersihkan
semuanya!” Dan alangkah leganya ia ketika melihat Ibunya berderap pergi dengan
jengkel. Citra cepat-cepat menutup pintu.
Citra
menunggu Willis bangun sampai sore hari. Selama itu pula ia mengutak-atik jam
tangannya yang rusak. Jam model laki-laki itu diberikan oleh Ibunya ketika ia
berulang tahun yang ke-15. Namun, karena kesalahan pemakaian atau entah apa,
jam itu tak lebih dari sebuah layar kecil, kait, dan rantai emas. Citra terlalu
takut untuk memberitahu Ibunya tentang kerusakan jam tersebut, dan jelas-jelas
tidak berani minta yang baru. Sudah sebulan ini ia berusaha memperbaikinya,
tapi sepertinya hal itu sia-sia.
Citra menoleh ketika ia melihat
Willis menggerak-gerakkan matanya. Citra sudah berpikir dalam-dalam. Karena
Willis mengerti apa pun yang diucapkan Citra, Citra berniat untuk meminta
informasi tentang siapa Willis sebenarnya. Citra benar-benar duduk tegak
melihat Willis sudah benar-benar terjaga.
“Willis,” Citra menjilat bibirnya.
“Kamu ngerti apa yang aku omongin?”
Willis mengangguk kebas. Citra
menganga, lalu kembali mengatupkan bibirnya.
Ia berkata, “Kamu pasti bukan kucing!
Ya, kan?”
Willis menatap Citra, tapi tidak
mengatakan apa-apa. Citra menuding Willis, menahan suaranya supaya tidak
terdengar seperti teriakan. “Aku gak mau omong kosong, Willis. Tunjukkan wujud
aslimu!” Seketika kilat muncul sesaat diiringi dengan guntur yang bergemuruh.
Citra mulai khawatir. Ia membayangkan adegan-adegan di film yang menampilkan
seseorang mendapat masalah karena berhadapan dengan suatu makhluk yang
diperlakukan buruk. Citra bergidik. Dan hujan pun turun dengan lebatnya.
Citra mulai waspada melihat Willis
berjalan menuju jendela kamarnya. Ia memberanikan diri untuk ikut melihat
sesuatu dan disana, di halaman rumahnya yang diguyur hujan deras, ia melihat
seseorang berjalan dengan sangat perlahan menuju rumahnya. Tubuhnya
terbungkuk-bungkuk. Ia memegang payung dengan tangan gemetar karena angin cukup
kencang untuk menerbangkannya. Citra berpikir pastilah ia peminta-minta. Tapi
kemudian ia menoleh ketika Willis mengetuk-ngetuk kaca jendela dengan cakarnya,
dan sangat ajaib, wanita tua itu menoleh ke arah Willis dan tersenyum padahal
suara hujan yang deras sudah terasa menulikan telinga.
Ketika akhirnya wanita tua itu sudah
sampai di teras, Willis melesat ke arah pintu. Ia berdiri di atas dua kaki dan
tubuhnya perlahan-lahan menjadi tinggi, hampir setinggi Citra. Kemudian ia
memutar kenop pintu, menjadi kucing kecil lagi, lalu berlari menuju pintu
depan. Citra yang melihat semua itu sangat ketakutan. Ia menempelkan dirinya ke
tembok. Semuanya mulai masuk akal. Willis tidak mengeong sejak Citra
menemukannya; pintu kamar yang terbuka; makanan yang tersisa; gelengan dan
anggukan kepala; sendawa dengan menutup mulut. Citra mulai mengerti. Ia pun
bergegas keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Ibu sedang berdiri di ambang pintu
depan. Citra mendekat dan melihat seorang wanita tua dengan kucing di
gendongannya. Ibu melirik ke arah Citra dan bagaikan magnet, mata mereka
bertemu. Ada seringai menyeramkan di wajah mulus Ibunya. Hidungnya yang semerah
bunga mawar mulai kembang-kempis.
“Citra,” katanya lambat-lambat.
“Coba kamu jelaskan kenapa bisa ada kucing keluar dari kamarmu?”
Citra tergagap mencari kata-kata.
“Ma...ma..aku..aku..”
“Kucing ini peliharaan saya. Saya
yang menitipkannya pada anak Anda. Saya harap Anda tidak keberatan.”
Mereka terdiam. Wanita tua itu yang
berbicara. Ibu bersiap akan bersin lagi tapi sebelum itu terjadi wanita
tersebut menyemprotkan suatu cairan ke arah Ibu. Ia tidak jadi bersin.
“Apa itu?” Tanya Citra.
“Ini salah satu ramuan saya. Ibumu
tidak akan alergi lagi terhadap hewan apa pun.”
Mereka masih diam. Pikiran Citra dan
Ibunya hampir bertemu. Mereka memikirkan hal yang sama: Makhluk ini bukan
manusia.
Wanita tersebut berdeham. “Saya rasa
saya harus pergi sekarang... Terimakasih sudah merawat Willis,” katanya pada
Citra. Lalu Wanita tua itu berbalik untuk pergi tapi Citra mencegatnya. Ia
bertanya soal Willis.
“Oh dia,” wanita itu terkekeh.
“Kucing ini memang bisu. Sengaja saya membuatnya begitu supaya orang-orang yang
kebagiannya merawatnya tidak kesusahan. Dia juga saya buat setengah manusia
supaya bisa membantu saya.” Kemudian wanita itu berbisik pada Willis. Ia
menurunkannya dan Willis berjalan mendekati Citra. Ia memegang jam tangan Citra
yang rusak. Citra mengambilnya. Jam itu menyala.
“Bagaimana bisa ada di kamu?” Citra
terbelalak. Tapi Willis sudah kembali ke gendongan majikannya dan mereka pun
berbalik pergi. Dalam derasnya hujan, Citra melihat Willis melambaikan tangan
padanya.*****
Epilog
“Pilih
satu aja, ya, Ra!” Ibunya mengingatkan.
“Sip!” Jawab Citra.
Hari itu Minggu, jadi Ibu membawa
Citra ke toko hewan peliharaan untuk membelikannya seekor kucing. Citra girang
luar biasa. Sudah berpuluh-puluh menit ia mondar-mandir di antara
keranjang-keranjang besi yang memisahkannya dengan kucing-kucing terawat itu.
Citra berhenti pada sebuah keranjang
yang tidak terlalu besar. Di dalamnya kucing berbelang tiga—putih, hitam,
kuning—menarik perhatiannya. Ia mendekat ke arah keranjang dan membelai kucing
mungil tersebut. Ia merasakan sentakan kerinduan. Sudah seminggu berlalu sejak
Willis pergi.
Citra memutuskan untuk membeli
kucing tersebut. Tapi Ibunya mengerutkan dahi.
Ibu
berkata, “Masih banyak yang lebih bagus daripada ini, Citra.”
Citra merajuk seperti anak kecil. “Tapi aku mau yang ini, Ma.” Ibu hanya mendesah lalu berjalan ke kasir. Mereka pun pulang.
Citra merajuk seperti anak kecil. “Tapi aku mau yang ini, Ma.” Ibu hanya mendesah lalu berjalan ke kasir. Mereka pun pulang.
Di rumah, Citra langsung mengajak
peliharaan barunya masuk ke kamar. Ia mulai memikirkan sebuah nama.
“Bagaimana kalau Willis?” Tanya
Citra pada kucing itu. “Mmm, kamu mengingatkan aku sama kucingku dulu. Dia
mirip kamu.” Citra menjawil hidung kecil Willis. Lalu ia memeluk Willis, merasa
bersyukur memilikinya sekarang.
“Willis nama yang bagus,” sebuah
suara berkata. Mata Citra membelalak, jantungnya berdegup. Ia melepas rangkulan
tangannya pada Willis. Citra tiba-tiba merasa pening. Ia berkata, “Kamu bisa
bicara?”
Dengan santai Willis mengangguk.
Citra sudah hampir menangis. Ia berteriak, “Maamaaaa!!”
TAMAT
Langganan:
Postingan (Atom)